Nasehat
HANYA karena takut di bilang pengecut. Sebagai laki-laki, tentu saja kata kata itu sesuatu yang sangat mengganjal di pikiranku dan ganjil untuk di dengar. Awalnya hanya coba-coba sehingga pada akhirnya semua itu menjadi kebiasaan dan terus bersaing menunjukan jati diri bahwa aku laki-laki!
Aku terkejut saat aku berada ditengah kerumunan orang banyak.
“Minumlah, nak. Mungkin kau haus.” Ujarnya sambil duduk dismpingku.
“Maksud bapak, apa? Saya tidak mengerti dengan apa yang bapak ucapkan.”
“Semua yang kamu alami saat ini pernah bapak rasakan juga.”
“Lalu apa hubungannya dengan saya?” Aku makin penasaran dengan apa yang dimaksudnya.
“Sudahlah, nak. Lupakan saja barang haram itu.
Orang tua itu bercerita walau singkat tapi aku hampir paham tapi makin menambah penasaranku.
“Hanya gara-gara barang yang juga saya pakai ini, bapak harus kehilangan adik kandung?” Tanyaku lagi.
“Ya. Malam itu hasrat untuk menggunakan barang itu sangat kuat, tapi bapak tak ada daya untuk membelinya. Adik bapak yang saat itu baru saja menerima uang gaji, bapak pinta uangnya. Tapi dia menolak untuk memberikan uang tersebut jika digunankan untuk membeli barang haram tersebut.”
“lalu...?” Potongku penasaran.
“Saat itu bapak....” katanya lagi, ”Tidak terima dengan apa yang dia ucapkan, sehingga bapak menjadi kalap dan gelap mata.” Matanya berbinar
“
“Sebuah tongkat pengganjal pintu, bapak jadikan pemukul. Kepalanya retak dan darah mengalir deras menyusur pelipis dan wajahnya!” Suaranya bergetar dan nyaris tidak terdengar. Aku merasa tercekik mendengar ceritanya.
“Masya Allah...!” Jeritku perlahan, “Lalu, pak?” Selorohku lagi tampak tanpa perasaan.
“Dengan seketika adik bapak terkapar dan tewas dihadapan bapak. Dengan tangan bapak sendiri....!” ujarnya agak menjerit, dan, dipipinya mengalir butiran yang bening lalu jatuh di punggung tangannya yang legam dan tampak sudah keriput. Ia menagis tersedu. Di sampingnya aku nyaris tidak tahan mendengarnya.
Aku jadi terharu dan iba pada orang tua itu. Apa lagi saat melihat sorot matanya yang menggambarkan sebuah penyesalan yang dalam. Aku semakin bingung. Hatiku berkecamuk menentukan jalan mana yang harus kupilih. Di sisi lain hasrat menikmati barang haram itu sangat kuat. Apalagi faktor lingkungan, mendukung aku untuk terus menikmatinya. Dalam tatapan kosong aku berfikir, “Sampai kapan aku harus begini?”
“Bapak bisa merasakan dan memahami keadaan kamu saat ini...” Katanya, “Dan, bapak berharap dengan cerita masa lalu bapak tadi, kamu bisa belajar dan mengambil hikmahnya menjadi cerminan buat masa depan kamu.” Lanjutnya sambil menatap kearah ku. Aku hanya terdiam dan baru mengerti apa yang dimaksud orang tua itu. Tadinya aku mengira mungkin tak akan ada orang yang mau peduli dengan keadaan ku.
Walau pun hanya nasehat yang kudapat, ternyata, masih ada yang memperhatikan kehidupan ku yang di pandang orang sebelah mata. Sehingga hal itu terkadang membuat keputusasaan datang menghantuiku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar