Salam Seni

SELAMAT DATANG DI FORUM PECINTA SENI SEDENG

Ayo Kirimkan Karyamu!

Buat krucil-krucil Godong, adik-adik binaan di SMP dan SMA di Banjarbaru, Martapura serta di kota laen...
AYO KIRIMKAN KARYAMU entah itu PUISI, CERPEN, FOTO Dokumentasi dll ke sini...
http://front-indonesia.blogspot.com
Jangan karya kamu cuma nampang di mading sekolah..

email pengiriman/ posting :
godong.kelor@gmail.com

info person, kotak admin weblog ini :
Mahe, Putra, Ucup, Ageng


YANG PERLU DIKETAHUI DAN DIPERHATIKAN

Tekhnologi makin maju, dunia informasi makin berkembang, oleh karena itu cara-cara lama yang menyita waktu dan tenaga dalam mengerjakannya harus ditinggalkan.

Buletin Godong, saat ini memang sedang mati suri, karena terlalu banyak menyita waktu dalam prosesnya.
Maka sebagai penggantinya, adalah blog.

Untuk itu Godong punya gawe... berhadiah dalam blog Front Indonesia ini, yang akan dinilai dalam satu periode dan masih ditampilkan, dengan kategore:

1. Pengirim Tulisan terbanyak (cerpen-puisi-sajak-pantun-prosa-dll)
2. Pengirim Foto terbanyak
3. Tulisan yang paling banyak mendapat komentar
4. Foto yang paling banyak mendapat komentar
5. Teman terbanyak dalam hi5.com

Gawe ini terbuka untuk anggota sanggar-sanggar binaan dan pengurus Godong.

Penilaian dilakukan oleh Senior Pengawas Godong

Kamis, 16 April 2009

Cerpen Aril

Nasehat

HANYA karena takut di bilang pengecut. Sebagai laki-laki, tentu saja kata kata itu sesuatu yang sangat mengganjal di pikiranku dan ganjil untuk di dengar. Awalnya hanya coba-coba sehingga pada akhirnya semua itu menjadi kebiasaan dan terus bersaing menunjukan jati diri bahwa aku laki-laki! Dan aku bisa seperti mereka. Terus dan terus tanpa memikirkan resiko yang kelak datang menghampiriku. Dalam otakku hanya terlintas yang penting happy.


Aku terkejut saat aku berada ditengah kerumunan orang banyak. Di antara mereka ada yang bilang aku gembel dan yang lebih sadisnya lagi ada yang bilang aku orang gila. Sambil menatap kearahku layaknya melihat seonggok bangkai. Aku hanya tertunduk malu setelah aku sadar dengan penampilanku yang layak untuk di sebut gembel. Aku memalingkan muka saat seseorang menyapa. Tepat dibelakngku berdiri seorang tua memandangiku. Dekat sekali. Sedetik kemudian dia berbicara padaku, “Nak, lebih baik kau beristirahat ditempat yang teduh saja.” Tangannya menunjuk ke suatu tempat. Di sampingnya terhampar selembar karpet berlapis kain berwarna biru. Di atasnya sudah tersusun rapi berbagai macam batu perhiasan. Tanpa bicara apapun aku berjalan menuju tempat yang dimaksud orang tua itu. Tidak lama kemudian, dia menghampiriku, tanganya menenteng sebotol air lalu memberikannya padaku.

“Minumlah, nak. Mungkin kau haus.” Ujarnya sambil duduk dismpingku. “Terima kasih, pak, airnya.” Ucapku sambil menatap kearah orang tua itu. Namun tak ada satupun jawaban yang ku terima, yang kulihat hanya tatapan kosong dan tarikan nafas panjang yang menggambarkan sebuah keluhan, sehingga kerutan di wajahnya semakin terlihat jelas. “Nak, kalau bukan kita yang menyudahi semua ini, tak akan pernah ada yang namanya akhir dari sebuah cerita.” Kata orang tua itu berbicara.

“Maksud bapak, apa? Saya tidak mengerti dengan apa yang bapak ucapkan.”

“Semua yang kamu alami saat ini pernah bapak rasakan juga.”

“Lalu apa hubungannya dengan saya?” Aku makin penasaran dengan apa yang dimaksudnya.

“Sudahlah, nak. Lupakan saja barang haram itu. Dan harus kamu ketahui, gara-gara barang haram itu bapak harus kehilangan semua yang bapak cita-citakan.” Ia diam sejanak sambil menghela napas panjang, lalu... “Yang lebih tragisnya lagi bapak harus kehilangan adik kandung.” Lanjutnya penuh iba.

Orang tua itu bercerita walau singkat tapi aku hampir paham tapi makin menambah penasaranku.

“Hanya gara-gara barang yang juga saya pakai ini, bapak harus kehilangan adik kandung?” Tanyaku lagi.

“Ya. Malam itu hasrat untuk menggunakan barang itu sangat kuat, tapi bapak tak ada daya untuk membelinya. Adik bapak yang saat itu baru saja menerima uang gaji, bapak pinta uangnya. Tapi dia menolak untuk memberikan uang tersebut jika digunankan untuk membeli barang haram tersebut.”

“lalu...?” Potongku penasaran.

“Saat itu bapak....” katanya lagi, ”Tidak terima dengan apa yang dia ucapkan, sehingga bapak menjadi kalap dan gelap mata.” Matanya berbinar

Dan, apa yang terjadi pada adik bapak?” Aku makin ribet.

“Sebuah tongkat pengganjal pintu, bapak jadikan pemukul. Kepalanya retak dan darah mengalir deras menyusur pelipis dan wajahnya!” Suaranya bergetar dan nyaris tidak terdengar. Aku merasa tercekik mendengar ceritanya.

“Masya Allah...!” Jeritku perlahan, “Lalu, pak?” Selorohku lagi tampak tanpa perasaan.

“Dengan seketika adik bapak terkapar dan tewas dihadapan bapak. Dengan tangan bapak sendiri....!” ujarnya agak menjerit, dan, dipipinya mengalir butiran yang bening lalu jatuh di punggung tangannya yang legam dan tampak sudah keriput. Ia menagis tersedu. Di sampingnya aku nyaris tidak tahan mendengarnya.


Aku jadi terharu dan iba pada orang tua itu. Apa lagi saat melihat sorot matanya yang menggambarkan sebuah penyesalan yang dalam. Aku semakin bingung. Hatiku berkecamuk menentukan jalan mana yang harus kupilih. Di sisi lain hasrat menikmati barang haram itu sangat kuat. Apalagi faktor lingkungan, mendukung aku untuk terus menikmatinya. Dalam tatapan kosong aku berfikir, “Sampai kapan aku harus begini?”

“Bapak bisa merasakan dan memahami keadaan kamu saat ini...” Katanya, “Dan, bapak berharap dengan cerita masa lalu bapak tadi, kamu bisa belajar dan mengambil hikmahnya menjadi cerminan buat masa depan kamu.” Lanjutnya sambil menatap kearah ku. Aku hanya terdiam dan baru mengerti apa yang dimaksud orang tua itu. Tadinya aku mengira mungkin tak akan ada orang yang mau peduli dengan keadaan ku.


Walau pun hanya nasehat yang kudapat, ternyata, masih ada yang memperhatikan kehidupan ku yang di pandang orang sebelah mata. Sehingga hal itu terkadang membuat keputusasaan datang menghantuiku!

Tidak ada komentar: